Wallahu A’lam

[fusion_builder_container hundred_percent=”no” equal_height_columns=”no” menu_anchor=”” hide_on_mobile=”small-visibility,medium-visibility,large-visibility” class=”” id=”” background_color=”” background_image=”” background_position=”center center” background_repeat=”no-repeat” fade=”no” background_parallax=”none” parallax_speed=”0.3″ video_mp4=”” video_webm=”” video_ogv=”” video_url=”” video_aspect_ratio=”16:9″ video_loop=”yes” video_mute=”yes” overlay_color=”” overlay_opacity=”0.5″ video_preview_image=”” border_size=”” border_color=”” border_style=”solid” padding_top=”” padding_bottom=”” padding_left=”” padding_right=””][fusion_builder_row][fusion_builder_column type=”1_1″ layout=”1_1″ background_position=”left top” background_color=”” border_size=”” border_color=”” border_style=”solid” border_position=”all” spacing=”yes” background_image=”” background_repeat=”no-repeat” padding=”” margin_top=”0px” margin_bottom=”0px” class=”” id=”” animation_type=”” animation_speed=”0.3″ animation_direction=”left” hide_on_mobile=”small-visibility,medium-visibility,large-visibility” center_content=”no” last=”no” min_height=”” hover_type=”none” link=””][fusion_text]

 

Grand Syaikh Al-Azhar, Mahmud Syaltut (w.1963)

Beda pendapat dalam hal yang bersifat multi interpretasi merupakan kewajaran. Akan menjadi tidak lumrah dan di luar kewajaran apabila hal yang bersifat zhanni dalâlah itu diarahkan kepada satu pemahaman tertentu saja. Lebih lanjut, pendapat itu diyakini sebagai kebenaran mutlak dan seterusnya dipaksakan kepada orang lain agar mengamininya.

Imbasnya, pihak-pihak yang yang tidak sependapat dengan kelompok mereka akan dibully habis-habisan dan menjadi bulan-bulanan, terutama di dunia maya. Tidak pandang orang itu berilmu atau awam. Siapa saja yang tidak sependapat dengan mereka dan tidak mengikuti kebenaran versi mereka berhak dihukumi sesat dan menyesatkan.

Selanjutnya, mindset bahwa “Pendapatku seratus persen benar tanpa ada celah kekeliruan dan pendapat orang lain seratus persen keliru tanpa ada celah kebenaran” tidak terasa terbawa dalam kehidupan nyata. Sampai orang yang bersaksi di pengadilan atas dasar ilmu yang dimiliki juga mendapat fitnah yang bertubi-tubi. Walaupun dia sudah memberikan klarfikasi atas sikap yang diambilnya.

Dulu, para ulama tidak anti pati dengan dialog, tabayun dan beda pendapat. Berdialog adalah cara mereka bertukar pikiran dan menyampaikan kebenaran versi mereka. Falsafah yang dijunjung adalah “Pendapatku benar tapi menyisakan celah keliru dan pendapat selainku keliru tapi menyisakan celah kebenaran”. Sehingga setelah adanya debat tidak ada pemaksaan pendapat dan laku anarkis. Yang ada, mereka saling mengakui kedalaman ilmu lawan debatnya dan mengakui bahwa pendapat mereka berdasarkan manhaj ilmiyah yang benar.

Dari silang pendapat dan perbedaan pandangn mereka kita menikmati hazanah intelektual yang sangat beragam dan dapat kita warisi sampai saat ini. Itu merupakan rahmat sebagaiman sabda Nabi “Perbedaan umatku menjadi rahmat”. Bukan hanya bagi kaum muslimin akan tetapi rahmat juga bagi non muslim.

***

Abdullah bin Shidiq al-Ghumari bercerita dalam autobiografinya, Sabîl at-Taufîq bahwa pada akhir tahun 1930-an dia berdebat secara terbuka dengan Mahmud Syaltut, wakil dekan Fakultas Syariah Islamiyah Universitas al-Azhar yang dikemudian hari menjadi Syaikhul Azhar. Keduanya berdebat sengit tentang kebenaran turunnya Nabi Isa di akhir zaman di Majalah al-Islam. Disaat yang berdekatan dia juga berdebat dengan Abdul Muta’al as-Sha’idi mengenai hukum photografi.

Ia disarankan untuk menempuh ujian doktoral (Syahadah Alimiyah) oleh salah seorang ulama al-Azhar agar perdebatan dengan ulama-ulama senior itu terkesan lebih berkelas. Sebab, bukti dari kealiman seseorang salah satunya adalah dengan dia mendapat pengakuan dari al-Azhar.

Al-Ghumari memasuki ruang ujian. Kepala tim penguji adalah Mahmud Zaghlul, guru besar yang terkenal super killer. Kebetulan salah satu pengujinya adalah Abdul Mutaa’al as-Sha’idi, ulama yang didebatnya beberapa waktu yang lalu. Perasaan was-was seketika menyelinap dalam dirinya. Jangan-jangan perdebatan itu menjadikan as-Sha’idi tidak objektif. Tapi, persangkaan itu salah. As-Sha’idi, guru besar dalam bidang Balaghah itu malah memuluskan al-Ghumari untuk menyandang gelar doktoralnya.

Beberapa hari setelah munaqasyah dan nama-nama yang berhasil meyandang gelar Syahadah Alimiyah al-Azhar terpampang di koran Ahram, al-Ghumari bertemu dengan Mahmud Syaltut di rumahnya. Saat itu Mahmud Syaltut sedang mengadakan pertemuan dengan para ulama. Salah seorang dari mereka memberiku ucapan selamat kepada al-Ghumari. Mahmud Syaltut yang mendengarnya sontak bertanya, “Selamat atas apa?” “Dia berhasil menyandang Syahadah Alimiyah”, kata orang yang ditanya. Mahmud Syaltut lantas memberikan ucapan selamat kepada al-Ghumari.

Perdebatan antara Mahmud Syaltut dan al-Ghumari menginspirasi al-Ghumari untuk menulis dua buah buku: Iqâmat al-Burhân ‘ala Nuzûli ‘Îsa fî Âkhir az-Zamân dan ‘Aqîdah Ahli al-Islâm fî Nuzûli ‘Îsa ‘alaihi as-Salâm.

Untuk mendapat Syahadah Alimiyah seorang akan diuji dalam bidang Nahwu, Sharaf, Ma’ani, Bayan, Badi’, Manthiq, Ushul Fiqh, Tauhid, Fiqh, Tafsir, Hadits, Mushthalah, Ilmu Wadha, ‘Arudh dan Tashawuf. Penguasaan dalam lima belas ilmu itu yang menjadi tolok ukur kealiman seseorang. Makanya Abdullah disarankan untuk mengikuti munaqasyah Syahadah Alimiyah.

***

Walhasil, perbedaan pendapat, hususnya dalam permasalahan agama yang bersifat zhanni merupakan hal yang tidak pernah mungkin dapat dihindari. Sebab, apapun yang berangkat dari yang bersifat zhanni maka akan menghasilkan sesuatu yang bersifat  zhanni pula. Dan, memaksakan hasil qath’i alias tidak ada perbedaan pendapat dari sebuah nash yang bersifat zhanni adalah kemustahilan.

Lah, kalau masih ada pemaksaan kehendak dalam interpretasi sebuah teks syarak dan bahkan menuduh orang yang tidak sependapat dengan tuduhan yang tidak sepantasnya maka keberislaman kita laik untuk dipertanyakan. Islam tidak pernah mentolerir perbuatan yang semacam itu.

Dan lagi, yang boleh berikhtilaf adalah orang yang sudah berilmu. Sedang yang masih berupa bawang kotong tidak berhak untuk berikhtilaf. Kalau yang masih bawang kotong ikut berikhtilaf seperti yang kita saksikan dalam dunia maya maka iktilaf tidak lagi menjadi nikmah akan tetapi berubah menjadi niqmah. Wallahu a’lam.

[/fusion_text][/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]

Post Author: Adhi Maftuhin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *