Tuduhan Munafik Termasuk Bid’ah

Si Munafik

Kemunafikan dalam diri seseorang dapat diukur dengan tanda-tanda yang tercantum dalam banyak literatur. Di antaranya adalah hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Sahihnya. Kalau anda membuka Kitâb al-Îmân dalam Bab “Tanda-tanda Orang Munafik” pasti menemukannya.

Berkaitan dengan hadits di atas, Ibnu Hajar al-Asqalani berpendapat bahwa tanda-tanda yang disebutkan oleh nabi tidak tertuju kepada orang munafik tertentu. Cakupan yang  ingin disasar dalam penyebutan kata “al-munafik” adalah jenis orang munafik, bukan orang perorang.

Dari penjelasan Ibnu Hajar, kejanggalan kita dalam literatur hadits dan sirah, mengapa Nabi sangat jarang menggunakan redaksi kata yang berakar dari kata nifâq/munâfiq dapat terjawab. Sependek pengetahuan penulis, beliau sama sekali tidak berkenan mengundang seseorang dengan sebuatn ‘wahai orang munafik’. Sebutan itu tidak pernah terlontar dari mulut beliau. Kepada orang yang jelas-jelas masuk dalam golongan kaum munafik sekalipun, beliau tidak pernah menyebutnya dengan “si munafik”.

Berpantang Memunafikan Saudara Se-Islam

Walaupun Nabi dengan jelas memberikan batasan-batasan kemunafikkan seseorang, di saat yang bersamaan beliau berkali-kali mengingatkan sahabatnya agar tidak mudah memberikan ‘gelar’ munafik kepada orang lain. Berikut ini contoh dari ketidaksukaan nabi ketika para sahabat menyebut saudaranya sebagai seorang munafik.

Diceritakan, Utban bin Malik, seorang sahabat Nabi yang sudah sepuh, mengundang Nabi untuk datang ke rumahnya. Tujuannya agar beliau berkenan shalat di rumahnya dan petilasan itu nanti akan dijadikan musola bagi anggota keluarganya. Singkat cerita, Nabi menanyakan keberadaan seorang sahabat yang bernama Malik bin Dakhisy. Salah seorang dari mereka menjawab, “Orang itu orang munafik, dia tidak senang kepada Allah dan Rasul-Nya.” Rasul segera menimpali, “Jangan ngomong begitu! Bukankah kau lihat sendiri bahwa Malik mengakui keesaan Allah dengan sebenar-benarnya? Allah akan mengharamkan orang yang mengakui keesaan Allah dengan keikhlasan penuh dari api neraka.”

Muadz bin Jabal pernah mendapat teguran dari Rasul perihal ucapan ‘munafik’ yang dilontarkannya kepada salah satu makmum yang mufaraqah ketika dia menjadi imam. Si makmum merasa keberatan dengan bacaan surat al-Baqarah yang dibaca Muadz ketika dia menjadi imam. Dia memutuskan untuk mufaraqah karena sebab itu. mendengar salah satu makmumnya mufaraqah, Muadz menyebutya sebagai orang ‘munafik’. Karena merasa mufaraqah yang dilakukannya boleh-boleh saja, si makmum keberatan dengan tuduhan Muadz. Dia akhirnya mengadukan perkara itu kepada Rasul. Apa yang terjadi setelah mendengar pengaduan pelapor dan konfirmasi tertuduh? Nabi menegur Muadz. “Kamu pembuat onar, ya! Cukuplah membaca surat-surat pendek”, kata nabi kepada Muadz pada waktu itu.

Alkisah, Ali bin Abu Thalib, Zubair bin Awwam dan Miqdad, para pejuang tangguh yang dimiliki oleh umat Islam pada waktu itu diutus oleh Nabi Saw. untuk memburu seorang mata-mata perempuan yang akan pergi ke Mekah dengan membawa surat dari Hathib bin Abu Balta’ah. Hathib merupakan salah seorang laskar perang Badar. Surat itu berisikan informasi rencana penyerangan Rasul kepada kaum musyrikin di Mekah.

Mereka bertiga mendapat mandat dari Rasul, bahwa kalau sudah berada di Raudhah Khakh mereka akan menemukan perempuan pembawa surat itu. Benar, ketika mereka sudah berada di tempat yang ditunjukan oleh Nabi, terdapat wanita yang sama persis dengan sosok yang diceritakan oleh Nabi Saw.

Mereka mendapatkan si wanita sedang berada di sekedup untanya. “Serahkan surat yang ada padamu!” Pinta mereka dengan suara tegas. “Tidak ada padaku”, kata wanita itu. Kita lantas mencarinya dengan seksama, di semua tempat yang kira-kira surat itu disembunyikan. Akan tetapi hasilnya nihil. Mereka lantas menakut-nakuti, “Kami akan membuka bajumu kalau kamu tidak mau menyerahkan surat itu!” Perempuan itu akhirnya mengeluarkan surat dari bagian paling tersembunyi yang dimilikinya. Satu riwayat menyebutkan dia menyimpannya di ‘bundelan’ bajunya dan riwayat lain mengatakan dia menyimpan surat itu di sanggulnya.

Setelah mendapat apa yang mereka cari, mereka pulang untuk menyerahkannya kepada Nabi. Disaat itu Umar dan Hathib sedang berada bersama Rasul Saw. Umar berkata, “Hathib telah menghianati Allah dan Rasul-Nya. (Dia telah munafik). Biarkan saya penggal kepalanya, wahai Rasul!” Rasul berkata, “Apa yang mendorongmu melakukan hal ini wahai Hathib?” Hatihib mengklarifikasi perbuatannya. Umar mengulangi perkatannya lagi, “Dia telah menghianati Allah dan Rasul-Nya. Biarkan saya memenggal kepalanya wahai Rasul!” “Bukankah Hathib termasuk laskar Badar, wahai Umar? Laskar Badar telah mendapat jaminan surga dari Allah”. Setelah mendapat jawaban itu kedua mata Umar berkaca-kaca dan berkata, “Allah dan Rasul-Nya paling tau akan segala sesuatu”.

Umar bersikeras ingin memenggal kepala Hathib walaupun Nabi telah membenarkan klarifikasi dari Hathib. Hal itu dikarenakan Umar sama sekali tidak senang melihat orang yang menghianati Nabi. Dia berprasangka bahwa semua yang menyelisihi perintah nabi berhak untuk dipenggal kepalanya. Oleh karenanya, untuk menaikan persangkaanya ke tingkat yakin, dia meminta ijin kepada Rasul Saw. Umar menyebut Hathib sebagai seorang munafik sebab dia seakan bermuka dua dan membantu kaum musyrikin Mekah dengan suratnya itu.

Pamungkas

orang yang menyebut saudara seislam dengan sebutan munafik seharusnya diberi hukuman

Dari gambaran singkat di atas, kita dapat mengambil pelajaran bahwa sedapat mungkin kita menghindari kata munafik untuk menyebut orang lain. Kata Abdurazaq as-Shan’ani, orang yang menyebut saudara seislam dengan sebutan munafik seharusnya diberi hukuman. Amr bin Ash menceritakan bahwa Umar bin Khathab akan memberikan 90 kali cambukan atas pelecehan tersebut. Ikrimah, ulama besar tabi’in mengatakan bahwa tafsir “wa lâ tanâbazû bil alqâb” adalah sebutan sesama muslim dengan kata ‘wahai munafik’.

Walhasil, menuduh orang lain dengan sebutan munafik sedapat mungkin dihindari, melabeli diri sendiri dengan sebutan munafik juga tidak dibenarkan. Menghindari semua hal yang dilarang terbilang harus dilakukan, sedang melakukan perintah adalah semampunya.

Nabi tidak pernah memunafikkan orang lain

Kalau kita mendeklarasikan diri sebagai orang yang ‘nyunnah’ maka sudah sepantasnya untuk berpantang dari memunafikan saudara seislam. Sebab, Nabi tidak pernah memunafikkan orang lain. Andai tetap mau memunafikan orang lain berarti anda akan jatuh pada perbuatan bid’ah. Katanya, semua bid’ah itu sesat, dan yang sesat tempatnya di neraka. Maka, memunafikan saudara seislam akan mempermudah masuk neraka. Naudzu billah!!!

Post Author: Adhi Maftuhin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *