Mari Bekerjasama, Saudaraku!

Kita, kalau mau jujur, pasti setuju bahwa mayoritas umat Islam dalam pertunjukan sejarah saat ini sedang ketiban sampur memerankan lakon hanya sebagai kelompok-kelompok pesakitan. Di atas panggung peradaban, kita tidak lagi disorot sebagai pemeran utama seperti yang pernah dimainkan saudara-saudara kita beberapa abad silam. Kini, kita tersebar di pojok-pojok gelap yang hanya akan ditampilkan ketika pertunjukan membutuhkan adegan-adegan tentang kesialan dan keterpurukan.

pengungsi muslim
pengungsi muslim (credit huffpost.com)

Di lihat dari banyak sudut pandang, kita menanggung sejumlah karakter yang memprihatinkan: kebodohan, kemiskinan, ketertinggalan, konflik, penolakan, dan seterusnya. Ya, kita adalah orang-orang yang kalah. Orang-orang yang tergilas roda zaman, terseret dan tertatih-tatih, kata Ebiet G. Ade.

Dua reaksi ekstrim

escaping from reality

Menghadapi kenyataan pahit ini secara umum memunculkan dua reaksi ekstrim. Yang pertama adalah kecenderungan menutup diri sambil terus berimajinasi tentang keindahan akhirat. Alih-alih move on, sebagian kita semakin jauh bersembunyi ke belantara mimpi, lari dari kenyataan. Kita beranggapan nikmat surgawi dapat dicapai dengan melalaikan tanggungjawab sosial kemanusiaan sebagai khalifat Allah fi al-ard. Reaksi ini adalah ekspresi keegoisan individulis belaka.

Pada taraf tertentu, kecenderungan ini memang sangat sering diasosiasikan dengan pemahaman bahwa agama adalah semata-mata urusan ukhrawi. Sufisme, tarekat, atau aliran-aliran tasawwuf sering dijadikan tertuduh oleh mereka yang „progressive“. Di sini kita melupakan fakta bahwa gerakan tarekat juga pernah memainkan peran heroik memperjuangkan nasib „duniawi“. Sejarah kita mencatat bagaimana pemerintah kolonial Belanda pernah begitu terancam oleh mereka.

radikalisme agama

Reaksi kedua adalah kencenderungan kita untuk menimpakan segala kesalahan kepada pihak luar yang biasanya kita sebut sebagai musuh-musuh Islam. Perasaan yang over sensitif ini sering mengakibatkan kita mudah tersinggung. Tak segan-segan, yang dilakukan kemudian adalah mengangkat senjata, membabibuta, ngamuk sejadi-jadinya. Agama benar-benar dijadikan sebagai legitimasi kebencian dan dendam.

Sama seperti reaksi pertama yang menggunakan agama sekedar sebagai opium untuk menyembunyikan rasa sakit, yang kedua ini juga konyol menjadikan agama sebagai saluran kemarahan yang sebenarnya tak lebih dari sekedar frustasi dan ekspresi ketidakberdayaan yang lain. Hari ini mau seberapapun kuatnya pasukan ISIS, misalnya, tidak akan mampu menandingi kehebatan militer dan kecanggihan alat tempur negara-negara yang kita sebut sebagai musuh itu.

Mari introspeksi

Benar bahwa sebagian malapetaka yang menimpa umat Islam tidak dapat dilepaskan dari sebuah sistem dunia yang memungkinkan lahirnya pihak-pihak yang mengeksploitasi dan yang dieksploitasi. Tapi menganggapnya sebagai satu-satunya sebab adalah naïf, seolah di dunia hanya ada satu pemain aktiv dan lainnya pasiv, tidak ada hubungan resiprokal sama sekali. Anggapan ini akan menjauhkan kita dari introspeksi diri, muhasabat al-nafs.

seolah di dunia hanya ada satu pemain aktiv dan lainnya pasiv, tidak ada hubungan resiprokal sama sekali. Anggapan ini akan menjauhkan kita dari introspeksi diri, muhasabat al-nafs

Ya, dengan katogorisasi ini, saya mungkin over menjeneralisir dan menyederhanakan dinamika. Mengabaikan banyak spektrum lain yang berada di antara dua kutub ekstrim tersebut. Namun, saya hanya ingin memperkuat kesadaran bahwa tubuh kita saat ini sedang sakit. Diakui atau tidak, kebanyakan kita merasakan gejala-gejala yang mirip seperti yang diderita oleh dua kubu diametris tersebut di atas.

kekerasan antara kelompok islam
Penyerangan Terhadap Warga Ahmadiyah di Cikeusik

Tidak, saya juga tidak sedang mengajak kita menuju satu titik keseragaman. Perbedaan bagaimanapun adalah rahmat. Mungkin itu alasan klise, jargon yang tak terbukti. Iya, memang nyatanya perbedaan tidak lagi menjadi modal yang memperkaya dinamika Islam. Ia justru dijadikan alasan untuk saling serang. Lantas apa? Apa yang dapat dilakukan? Tidakkah kita sudah capek dengan semua kejumudan ini?

Mengalihkan energi

Kita sebenarnya masih memiliki energi yang berlebih. Lihat saja fenomena di medsos beberapa minggu terakhir. Betapa kita begitu bertenaga ketika berdebat tentang al-Maidah 51. Sama sekali tidak produktif, saudaraku! Berjuang membela agama di era neo-liberal yang serba kapitalistik sekarang tidak begitu caranya, bapak-bapak ibu-ibu! Perjuangan yang lebih substantive adalah membela nasib umat Islam, diri kita sendiri, dalam relasi-relasi social dan ekonomi yang timpang ini.

hoax
Banyak dari kita yang begitu gemar menyebarkan berita bohong

Kalau mau sedikit saja membuka mata, memanfaatkan gadget—yang sayangnya lebih sering kita gunakan untuk hal-hal yang justru lebih berpotensi merusak nurani dan menumpulkan intelektualitas—akan terlihat bahwa selama ini kemandulan kita ini karena kita lebih sibuk dengan aktivitas-aktivitas yang sebenarnya bukan bidang keahlian kita.

Janganlah kita saling berebut peran. Diskursus keagamaan biarlah itu menjadi domain para santri dan kyai di lembaga-lembaga keagamaan, mulai dari pesantren hingga PTAI. Yang di pertanian, kedokteran, peternakan, biologi, MIPA, dan lain sebagainya, kenapa tidak fokus pada memaksimalkan kemajuan bidang keilmuan masing-masing saja. Gencarkan penelitian, publikasi di journal-journal internasional bergengsi, dan program-program pemakmuran umat.

Mungkin ada pertanyaan, “bagaimana dengan nasib umat Islam yang sedang di-kuyo-kuyo, dinistakan dan diperlakukan dengan tidak adil ?” Maaf kalau jawaban saya akan menyakitkan, saudaraku! Tapi umpatan kita di medsos sama sekali tidak bergema jika dibandingkan dengan pembelaan yang dilakukan oleh kalangan yang ironisnya di luar kita. Kita sering dibela oleh mereka yang justru sering ikut tersemprot sewaktu kita mengutuk umat lain.

Tidak percaya? Coba sekali-kali gunakan gadget buatan non-Muslim itu untuk membuka wawasan dan mencerdaskan diri! Niscaya kita akan sadar bahwa musuh kita, musuh agama kita, adalah diri sendiri dengan segala absurditas kita. Pongah dalam kekalahan, merasa besar dalam kekerdilan, keukeuh membanggakan kebodohan, dan seterusnya. Maaf!

•Baden-Württemberg, 06-12-2016

Post Author: Kun Akaabir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *