Ibnu Khaldun*

Monumen Ibnu Khaldun di Tunis (foto: britannica.com)

Ibnu Khaldun adalah seorang intelektual muslim di Afrika Utara yang hidup di abad ke-14 hingga awal abad ke-15, bersamaan dengan masa-masa runtuhnya Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak di sini. Pemikiran-pemikirannya di bidang keilmuan sosial, terutama sejarah dan historiografi (ilmu penulisan sejarah), sosiologi, politik dan juga ekonomi, menjadi fondasi penting bangunan ilmu-ilmu sosial modern, social sciences. Pemilik nama lengkap Abū Zayd ‘Abd ar-Raḥmān ibn Muḥammad ibn Khaldūn al-Ḥaḍramī ini dilahirkan di kota Tunis, Tunisia, pada tahun 1332. Oleh Encyclopaedia Britannica, ia disebut sebagai sejarawan Arab terbesar hingga saat ini. Ide-idenya, terutama tentang filsafat sejarah, kebanyakan tertuang dalam karya monumentalnya yang berjudul مقدمة (Muqaddimah, Pendahuluan).

Muqaddimah, buku sejarah dan historiografi magnum opus Ibnu Khaldun
Muqaddimah, magnum opus Ibnu Khaldun (foto: muslimheritage.com)

Ibn Khaldūn juga menulis otobiografinya sendiri التعريف بإبن الخلدون (Al-Ta’rīf bi Ibn al-Khaldūn, Perkenalan Ibnu Khaldun) di mana dia menceritakan perkembangan keilmuannya, buku apa saja yang dibacanya dan juga resume tentang karya guru-gurunya. Dia menghafal Al-Qur’an sekaligus mempelajari berbagai tafsirnya, hukum Islam, sastra Arab, dan lain sebagainya. Dia juga belajar filsafat, sejarah, geografi, dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Pemikirannya dalam bidang filsafat banyak dipengaruhi oleh Ibnu Rusyd, filosof muslim abad ke-12, atau yang di Barat dikenal dengan Averroës. Ibnu Khaldun menuliskan sejumlah kajian filsafat berdasarkan karya-karya Ibnu Rusyd ini.

Muqaddimah: Pemikiran Ibnu Khaldun tentang filsafat sejarah

Merasa jengah dengan aktifitas politik yang telah digelutinya sejak belia, pada usia 43 tahun Ibnu Khaldun mulai menyepi, menjauhkan diri dari bisingnya kehidupan kota. Sejak saat itu, selama empat tahun kemudian, dia menulis Muqaddimah.

Buku ini merupakan sebuah pengantar ilmu sejarah. Pada awalnya Ibnu Khaldun hanya berniat untuk menulis semacam rekaman sejarah universal tentang masyarat Arab dan Barbar di Afrika Utara. Namun kemudian dia berfikir bahwa sebelum menulis sebuah sejarah, seseorang memerlukan seperangkat ilmu atau metode penulisan sejarah (historiografi) sehingga, dengan ilmu ini, akan diketahui batasan-batasan penting dari definisi sejarah dan kriteria-kriterianya untuk membedakan antara mana yang merupakan fakta sejarah dan mana yang bukan.

Historiografi ini oleh sejarawan Inggris Arnold Toynbee disebut sebagai “sebuah karya terbesar dalam bidang filsafat sejarah yang pernah ditulis.” Bahkan, sebelumnya, Robert Flint sangat memuji kepakaran Ibnu Khaldun dengan mengatakan “sebagai seorang filusuf sejarah, dia tidak tertandingi kepakarannya hingga tigaratus tahun setelahnya.. Bahkan dalam hal ini, Plato, Aristoteles dan Augustine tidak dapat dibandingkan dengannya.”

Penelitiannya tentang sifat sebuah masyarakat dan perubahan sosial mengantarkannya pada penemuan ilmu baru yang disebutnya sebagai علم العمران (“ilmu tentang kebudayaan”) sebagai cikal-bakal antropologi sosial.

Berdasarkan konten dalam Muqaddimah, tidak berlebihan jika kemudian Ibnu Khaldun dianggap sebagai peletak dasar sosiologi umum (jilid I), sosiologi politik (jilid II dan III), sosiologi perkotaan (jilid IV), sosiologi ekonomi (jilid V), dan sosiologi pengetahuan (jilid VI). Hingga hari ini, buku Muqaddimah ini masih banyak digunakan sebagai sumber utama dalam penelitian-penelitian sejarah dan historiografi, ilmu ekonomi, politik, dan pendidikan.

Dalam sosiologi politik, salah satu gagasan terpenting Ibnu Khaldun adalah tentang kohesi sosial “aṣabiyyah”. Kohesi inilah, yang biasanya muncul secara spontan di kelompok-kelompok kecil berbasis kesukuan dan ikatan primordial, tapi kemudian dapat diintensifkan dan diperluas kepada ideology agama, yang menjadi kekuatan kelompok penguasa untuk mempertahankan atau merebut kekuasaan. Menurut Ibnu Khaldun, kohesi sosial berbasis kesukuan, keluarga dan agama ini—yang meskipun dapat menyebabkan runtuhnya sebuah dinasti kekuasaan atau imperium—masih lemah. Sehingga perlu mempersiapkan sebuah system baru yang didasarkan pada ikatan kelompok atau pengikat yang lebih kuat dalam masyarakat.

Bukankah berdasarkan gagasan ini kita dapat beralasan mengapa kita perlu tetap mempertahankan system pemerintahan NKRI yang sekarang daripada mengikuti gagasan Khilāfah Islāmiyyah (aṣabiyyah berdasar sentimen agama) yang secara konseptual belum jelas itu?

Gagasan utama Ibnu Khaldun tentang filsafat sejarah adalah bahwa sejarah merupakan siklus yang tak berkesudahan. Sejarah adalah silih-bergantinya kemenangan dan kekalahan, tanpa evolusi dan perubahan menuju kemajuan, kecuali perkembangan yang terjadi pada masyarakat dari primitive menuju peradaban. Meskipun demikian, dia juga tak memungkiri akan adanya titik balik sejarah. Dia mengaku telah menyaksikan salah satunya arus balik itu. “Ketika ada sebuah perubahan besar dalam sebuah masyarakat.. akan muncul tatanan yang baru, penciptaan yang terulang, lahirnya sebuah dunia baru.” Pendapatnya ini disinyalir lahir karena dia menyaksikan bagaimana tragedi Black Death (wabah pes di abad ke-14 yang membunuh hingga 200 milyar jiwa di Eropa dan sekitarnya) mempengaruhi masyarakat Muslim di sana, juga pengalaman dari serangan bangsa Mongol ke Bagdad, awal perkembangan dan kebangkitan Eropa, dan momentum sejarah lainnya.

Ibnu Khaldun adalah pemikir pertama yang menekankan pentingnya pemikiran yang didasarkan atas bukti-bukti empiris daripada teori-teori normative. Inilah yang kemudian menjadi dasar pemikiran metode etnografi dalam studi antropologi. Tiga sumbangan terpenting yang diberikan Ibn Khaldun kepada ilmu-ilmu sosial modern adalah mengenalkan siginikansi fakta-fakta empiric itu tadi, mengembangkan teori tentang perubahan, dan mengidentifikasi solidaritas kesukuan sebagai pendorong perubahan. Yang kita butuhkan saat ini adalah ilmuwan-ilmuwan sosial seperti Ibnu Khaldun ini yang dapat memberikan sumbangsih untuk menciptakan struktur dan sistem pemerintahan yang baik di kalangan masyarakat muslim khususnya di Indonesia.

Catatan untuk kita

Semoga profil singkat salah satu pemikir terbesar Muslim abad pertengahan ini dapat membakar semangat kita untuk menggelorakan kembali “jihad akademik” mereka di hati kita. Sebab, percuma saja kalau kejayaan emas masa lalu yang telah melahirkan ilmuwan-ilmuwan agung seperti Ibnu Khaldun ini hanya berhenti sebagai romantisisme, hanya sebatas lagu nina bobo agar segera lupa—diri—kalau sedang terpuruk tak berdaya di pojokan sejarah peradaban global.

Fakta bahwa Islam pernah menjadi pemimpin peradaban dunia hanya akan menjadi noktah kecil yang akan segera terlupakan oleh laju zaman yang kian cepat jika jimat para pelakunya tak kita warisi dan gunakan dengan baik. Jimat itu adalah tinta emas yang dengannya kita akan menuliskan sejarah kita sendiri.

Hari ini kita menjadi warga sebuah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Artinya, di tangan kitalah nasib peradaban Islam akan tercatat dan dipertaruhkan di hadapan anak-cucu kita kelak. Tak perlu menjadi sejarawan seperti Ibnu Khaldun, yang mesti kita lakukan adalah membangun monumen prestasi gemilang setinggi-tingginya dalam bidang dan keahlian kita masing-masing.

Selamat ulang tahun yang ke-684, Ibnu Khaldun!

Purwokerto, 27 Mei 2016

*) dimuat di buletin jumat Nurul Ulum

Post Author: Kun Akaabir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *