Fiqh al-Aqaliyyat, sebuah rubrik baru masjid.unsoed.ac.id

Muslimah yang menjadi polwan di Amerika
Seorang polwan muslimah di Minnesota, Amerika Serikat (credit: mvslim.com)

(Heidelberg-masjid.unsoed.ac.id/30-10-2016) Sejak awal abad ke-7 di Mekah hingga saat ini, Islam telah melewati banyak fase-fase sejarah. Bermula dari kota di kawasan Asia Barat itu, Islam kemudian dengan cepat menyebar ke seluruh semenajung Arabia. Tidak sampai hitungan abad sepeninggal Rasulullah SAW., sudah berdiri sejumlah pusat kekuasaan Islam yang membentang dari Spanyol di Eropa Selatan hingga kawasan India di Asia Selatan.

kekuasaan Islam abad ke-8 Masehi
Peta Kekuasaan Islam hingga pertengahan abad ke-8 M membentang dari Spanyol ke India (credit: islamicspain.tv)

Dari abad ke-8 sampai abad ke-13 (bahkan sejumlah sejarawan kontemporer menyebut abad ke-15), Islam menikmati masa-masa kejayaannya. Kemajuan peradaban ini terutama ditopang oleh prestasi di bidang ilmu pengetahuan yang pada gilirannya juga memantik prestasi-prestasi lain di bidang ekonomi, politik, dan budaya. Sebagai contoh perbandingan, saat sebagian besar wilayah Eropa Barat dan Utara sedang mengalami masa-masa kegelapan (the Dark Ages), sepertiga dunia lainnya yang berada di bawah kendali penguasa-penguasa yang memeluk ajaran Nabi Muhammad justru sedang menikmati benderangnya cahaya ilmu seperti filsafat, ilmu politik, sosiologi, sejarah, geografi, kedokteran, matematika, astronomi hingga seni-budaya.

ilmu pengetahuan dalam islam
Masa kejayaan Islam dimulai dari penguasaan ilmu pengetahuan (credit: historybuff.com)

Perkembangan peradaban ini pun mengakibatkan meluasnya wilayah kekuasaan Islam. Asia Tenggara yang pada saat itu menjadi salah satu kawasan central Hindu-Buddha, namun justru peripheral bagi Islam, pun ikut terkena dampak “tsunami” peradaban emas tersebut. Islam berhasil masuk ke salah satu pusat politik terbesar di kawasan Nusantara, yaitu Majapahit, dengan cantiknya, sama sekali berbeda dengan cara menyebarnya Islam di wilayah Afrika, Asia Selatan, dan Eropa Selatan yang banyak dikendalikan oleh ekspansi militer.

masjid kudus, islam and hiduism
Masjid Kudus, simbol akulturasi Islam dengan budaya lokal (credit: indonesianhistory.info)

Titik balik sejarah kemudian terjadi sejak Perang Dunia dimulai hingga berakhir. Wilayah Nusantara yang tadinya peripheral ini justru menjadi central bagi peradaban Islam selanjutnya. Di sana, setelah selama ratusan tahun dikangkangi oleh kekuatan kolonialis Eropa, tahun 1945 berdiri sebuah kekuasaan politik besar yang berhasil mewujudkan sumpah Palapanya Patih Gajah Mada, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hingga saat ini, NKRI menjadi negara modern dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.

Bagaimana dengan wilayah bekas kekuasaan kekhalifahan Turki Usmani? Berbeda dengan Indonesia, di mana nasionalisme telah menyatukan sejumlah kesultanan dan kerajaan non-Muslim membentuk sebuah negara baru, nasionalisme justru berhasil memecah dan menghancurkan wilayah kekhalifahan terakhir itu menjadi negara-negara kecil yang merdeka.

Bagi umat Islam di Nusantara, Nasionalisme yang masuk di era kolonial itu menjadi berkah, namun menjadi musibah bagi dinasti Usmani, termasuk juga bagi kekaisaran Eropa. Meskipun kekuatan kolonial sudah berhasil merebut kembali tanah-tanah yang pernah dirampas dari kakek buyut mereka (Romawi – Byzantium). Kawasan Asia Selatan dan Barat, Afrika Tengah dan Utara, sebagian besar Eropa terpecah-pecah dan berdiri berbagai kerajaan dan negara kecil.

Dinamika politik ini juga akhirnya berdampak pada umat Islam yang hidup di wilayah-wilayah tersebut. Kolonialisme Barat di wilayah Asia – Afrika dan, pada saat yang sama, meredupnya Islam di tangan Turki Usmani seiring terbitnya cahaya baru di Eropa Barat telah menggeser pusat peradaban dunia. Ibarat laron, umat Islam dari kawasan Asia Barat dan Afrika Utara pada khususnya banyak yang meninggalkan cahaya yang mulai meredup itu dan mengikuti sumber cahaya baru. Mereka bermigrasi ke banyak negara bekas penjajah mereka di Eropa Barat. Sejumlah dinamika politik di era Perang Dingin juga menjadi penyebab banyaknya migrasi umat Islam ke wilayah-wilayah dingin tersebut.

Muslimah berhijab di Eropa
Muslim di Eropa (credit: sachtimes.com)

Hingga saat ini, jumlah umat Islam imigran maupun muallaf di negara-negara Eropa Barat seperti Belanda, Jerman, Belgia, Perancis dan Inggris cukup signifikan. Amerika Serikat, imperium dunia saat ini, juga berhasil menjadi cahaya yang menarik perhatian umat Islam. Perkembangan kuantitas umat Islam di kawasan-kawasan tersebut pada gilirannya juga memunculkan dinamika politik, sosial juga budaya. Dari sudut pandang negara host, umat Islam dituntut untuk berintegrasi dengan budaya setempat. Di sisi lain, para imigran juga banyak menghadapi persoalan-persoalan baru berkaitan dengan perbedaan kultur, sosial, politik itu dan juga perbedaan keadaan alam sebagaimana tempat mereka berasal.

Rubrik baru

Rubrik yang insya Allah akan dinamai Fiqh al-Aqaliyyat atau yang secara harfiyah bermakna Fiqh minoritas ini berupaya mengabarkan perkembangan dan dinamika kehidupan tersebut. Meskipun menggunakan kata fiqh, tulisan-tulisan dalam rubrik ini tidak melulu berkaitan dengan persoalan hukum, tapi berbeda-beda. Ada tulisan yang teoretik berisi analisis atas persoalan-persoalan agama dari perspektif akademik, ada pengalaman keseharian hidup sebagai muslim minoritas, maupun berita-berita yang berkaitan dengan semua dinamika tersebut. Obyeknya adalah berbagai aspek yang berkaitan dengan kehidupan keberagamaan (mulai hukum, sosial, ekonomi, kesehatan, politik, dll.)  umat Islam yang tinggal di kawasan Barat ini.

Penggunaan istilah „Barat“, baik secara sosiologis maupun antropologis, tentu saja sarat dengan generalisasi dan simplikfikasi untuk mewakilkan kawasan-kawasan yang berbeda di Eropa Barat dan Amerika Utara. Namun demikian, kelemahan teoretis ini mohon dimaafkan karena pertimbangan yang lebih pragmatis, yaitu tujuan: untuk kepentingan dakwah dan memperluas wawasan umat Islam di Indonesia pada umumnya, dan di Purwokerto pada khususnya. Bukankah ما لا يدرك كله لا يترك كله?

*Kun Akaabir, contributor masjid.unsoed.ac.id di Jerman

Post Author: Kun Akaabir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *